Tim Robot Jatim Wakili Indonesia ke India

DEPOK - Sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur berhasil mendominasi kejuaraan Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) di kampus Universitas Indonesia yang berakhir pekan kemarin.

Dari 12 nomor yang dilombakan, baik kategori KRI maupun KRCI, tujuh di antaranya berhasil disabet perguruan tinggi asal Jatim. Dari beberapa pemenang asal Jatim, tim robot Jump-Be Politeknik elektronika Negeri Surabaya berhasil merebut piala bergilir Menteri Pendidikan Nasional ‘Sambhawana Pratimacala’ sekaligus keluar sebagai juara pertama kategori KRI 2008 dan tim dengan Algoritma Terbaik.

Tim Khil-G, Universitas Brawijaya berhasil menempati urutan kedua. Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya menyabet tim dengan Desain Terbaik, sedangkan UGM dengan robot Palapa, meraih penghargaan sebagai tim dengan Inovasi Terbaik. Sementara itu, juara pertama kategori KRCI pada kategori robot beroda direbut tim Du 114 v8 dari Universitas Komputer Indonesia dan Robot Tensai dari Politeknik elektronika Negeri Surabaya sebagai runner up.

Di kelas robot berkaki, tim Rasyid dari Politeknik Caltex Riau menjadi juara pertama dan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya sebagai runner up. Ketua Tim Jump-Be Ridla Rizalany Arif mengatakan, timnya akan merombak total rancangan yang dipakai sekarang untuk persiapan kompetisi di ajang internasional. Upaya ini dilakukan karena Arif mengaku lawan-lawan yang akan dihadapi di ajang internasional adalah yang terbaik dari negara masing-masing.

“Kita akan mengubah hardware, software, dan mekanik kita juga akan mencari referensi-referensi dari luar negeri. Robot kita kurang lincah. Kalau ketemu jalan buntu tidak bisa mencari jalan lain, tidak sama dengan robot luar negeri yang dikenal cukup mahir,” ujar Arif sambil menggendong pialanya. Menurut Arif, tim Jump- Be akan mewakili Indonesia mengikuti kontes robot tingkat Internasional ABU ROBOCON 2008 yang berlangsung di Pune, India, 31 Agustus 2008 mendatang.

Di India ini, tim Robot Indonesia akan berkompetisi dengan 20 tim Robot dari negara lain. Lomba di India nanti, katanya, merupakan lomba keenam yang diselenggarakan di luar Jepang untuk peserta dari negara-negara anggota Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU). ABU adalah organisasi penyiaran di kawasan negara-negara Asia Pasifik yang beranggotakan lebih dari 100 stasiun televisi dan radio dari 50 negara.

Di Indonesia sendiri ABU diwakili Televisi Republik Indonesia sebagai anggota. Sementara itu, dosen pembimbing dari tim Du 114 V8 juara pertama KRCI Universitas Komputer Indonesia (Unikom), Yusrika Y Kerlooza, mengaku akan tetap mengikutkan anak asuhnya pada kontes internasional di Amerika tahun depan. “Saat ini kami terus getol mencari sumber dana. Semoga ada sponsor yang mau mendanai tim yang penuh bakat ini,” kataYusrika menggebu.

Ketua Pelaksana Anondho Wijanarko menilai kontes kali ini terbilang sukses. “Dari 37 kampus yang ikut, 24 kampus berpartisipasi di kategori KRI sisanya di KCRI, sedangkan UI menjadi tuan rumah yang ke-lima kalinya sejak tahun 2001. Kali ini pesertanya lebih antusias dan inovasinya lebih kreatif,” kata Anondho.

Sebelumnya, KRI 2008 diselenggarakan secara bertahap dimulai dengan Kontes Regional pada empat wilayah, yaitu Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Pemenang dari keempat Kontes Regional tersebut diikutsertakan dalam Kontes Nasional KRI 2008 yang berlangsung di UI pada 14 dan 15 Juni 2008. Sebanyak 24 tim dari perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan dapat berpartisipasi dalam kegiatan Nasional Kontes Robot Indonesia 2008.

Ketentuan pertandingan KRI 2008 mengacu pada aturan baku dari ABU Robocon 2008, di mana setiap tim terdiri atas 3 mahasiswa dan 1 dosen pembimbing, yang akan merancang, membuat, mengoperasikan robot manual dan robot otomatis serta mengatur strategi.

Menurut Dekan Fakultas Teknik (FT) UI Bambang Sugiarto, tujuan dari kontes robot ini adalah untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan minat para mahasiswa dalam teknologi maju, khususnya teknologi robotika yang sangat dibutuhkan bagi industri. “Kreativitas dan inovasi dosen dan mahasiswa menjadi kata kunci. Bukan hanya dalam wacana teoretis, melainkan harus bisa diimplementasikan dalam dunia nyata,” ujarnya. (sindo//srn)